Tangis pecah di lantai empat Ritz Carlton, Jakarta. Sekitar 800 orang, dari berbagai latar belakang dan agama, tak mampu membendung air matanya, menyesali sisi gelap dirinya. Ego dan keangkuhan melayang, seperti sebutir debu dalam gulungan badai gurun yang dahsyat. Mereka merasa lebih kecil dari debu ketika mengetahui kebesaran Allah yang menciptakan langit dan bumi sekalian isinya, Mahakuasa atas semua ciptaan-Nya, Maha Mengetahui yang tersembunyi di setiap hati manusia.
Bukan tangisan itu yang jadi tujuan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), tapi kesadaran spiritual, untuk apa manusia diciptakan, dan ke mana mereka selanjutnya pergi. Selama tiga hari, sejak Jumat (20/06), Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ, mengaduk-aduk dan meremas hati peserta. Ia mengajak semua orang mendengarkan suara hati yang sesungguhnya universal; jujur, adil, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, dan peduli. Sifat-sifat mulia itu ditiupkan Allah SWT ke dalam setiap jiwa manusia, siapa pun mereka.
Namun, kesombongan, prasangka buruk, materi, jabatan, kepentingan, dan sifat negatif lainnya menutupi suara hati itu, menutupi ‘God Spot’. Manusia mempertuhankan harta dan harga dirinya, mempertuhankan jabatan, kehormatan, dan unsur-unsur fisik. Ini membuat manusia tersesat, seperti Iblis menolak tunduk pada Adam yang diciptakan Allah SWT dari tanah. Iblis membandingkan tanah dan api. Ia merasa lebih terhormat daripada Adam. Ia sombong, angkuh, dan merasa berwenang berbuat apa saja yang diinginkannya. Ketika manusia memelihara kesombongan, mempertuhankan materi–keluar dari orbit sifat-sifat mulia yang universal–tidakkah manusia telah membiarkan Iblis bertahta dalam hatinya?
Kembalilah pada sifat-sifat mulia yang ditiupkan Allah SWT pada setiap manusia. Bergegaslah meraih cinta dan ridha Allah SWT, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahaadil, Maha Pemaaf. Jadilah hamba Allah yang mengejar cita-cita, bekerja, dan bermasyarakat semata-mata sebagai ibadah. Matahari, bulan, alam semesta berjalan mengikuti perintah Allah. Mereka bertawaf dan bertasbih tanpa sedetik pun ingkar. Mengapa kita yang jauh lebih kecil dan sangat tidak berdaya membuat jalan sendiri, keluar dari orbit, dan merasa lebih besar dan berkuasa?
Ketika kasadaran spiritual seperti itu berada dalam setiap hati manusia dan tersebar, seperti virus yang menyebar, dunia ini menjadi indah. Setiap manusia dapat bersama tanpa tersekat dalam kotak-kotak yang mereka ciptakan sendiri. Dalam konteks Indonesia–dengan segala problematikanya–Ary Ginanjar percaya kesadaran dan kecerdasan spiritual itu akan mengantar bangsa ini meraih masa emasnya, negara yang meraih kemenangan, kesejahteraan lahir batin dalam lindungan Allah SWT.
Virus kebaikan ini harus disebarkan. Ary telah memulai. Lebih 500 ribu alumni ESQ tersebar di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, dan Eropa. Di Eynsham Hall Oxford, Inggris, Maret 2007, Ary memaparkan ESQ yang bersumber dari Alquran itu di hadapan pakar internasional. Ia sebarkan virus itu. Prof Danah Zohar, pendiri The Oxford Academy of Total Intellegence, kemudian menyimpulkan, “Tidak ada orang yang bisa benci Islam dengan keindahannya. Kami akan sebarkan ide ini, Barat harus mengetahuinya.” Virus kebaikan ini akan tersebar luas, dari satu orang ke sejumlah orang. Kebaikan bersekutu dengan kebaikan. Ini menjadi sangat indah, indah sekali.
sumber: REPUBLIKA
DIarsipkan di bawah: Resonansi
