Pak Rosihan Anwar tetap gagah dalam usia 86 tahun, setahun lebih muda dari Pak Harto. Suaranya masih lantang, bersih, dan kritis. Di Petaling Jaya, Malaysia, selama dua hari sejak Sabtu (12/01) Pak Rosihan menjadi bintang di tengah wartawan-wartawan senior dunia Melayu dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Selama dua hari itu, Pak Rosihan menjadi bintang dan diliput semua media Malaysia, negara yang belakangan ini disorot berbagai kalangan di Indonesia. Bersama Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam, Pak Rosihan –yang pernah menjadi koresponden Utusan Malaysia, Berita Harian, dan New Straits Times Malaysia — menerima anugerah Tokoh Wartawan Dunia Melayu oleh Persatuan Mantan Wartawan Berita Harian Malaysia.
Sebagai pembicara dalam diskusi yang disusul perdebatan hangat tentang hubungan Indonesia-Malaysia, Pak Rosihan menjelaskan pandangan para elite politik Indonesia yang telah dimuat di berbagai media utama di Jakarta. Dalam berbagai kutipan itu, tergambar jelas ketidaksukaan elite politik Indonesia terhadap Malaysia. Selain menganggap negara itu arogan dan angkuh, ada pula tokoh Indonesia yang menilai Malaysia telah mengkhianati Indonesia, menohok teman seiring.
Pak Rosihan tidak menafsirkan komentar-komentar itu, tidak ingin ikut memprovokasi, kecuali menjelaskan fakta reaksi elite politik Indonesia. Dalam diskusi yang ditingkahi tarikan napas panjang sebagian wartawan senior Malaysia dan batuk-batuk kecil, Pak Rosihan sampai pada pemikiran, “Ketika sentimen kedua pihak mudah bergejolak, maka wartawan dunia Melayu patut sebagai penjaga dan juri kunci media massa dan pendapat umum atau custodians of the mass media and public opinion.”
Suasana di ruang luas di Hotel Armada Petaling Jaya yang mulai tegang, terasa mulai mencair. “Mari kita berjalan bersama. Kehidupan adalah suatu perjalanan, kita tempuh perjalanan itu dengan baik. Life is a journey. Travel it well. Semoga kita sampai pada pelabuhan yang dituju,” ujar Pak Rosihan, yang kemudian disambut tepuk tangan gemuruh.
Belakangan ini, hubungan rakyat kedua negara mengalami banyak hambatan. Satu demi satu peristiwa –dari Sipadan dan Ligitan, Amabalat, TKI, lagu dan kesenian tradisional Indonesia yang diakui milik Malaysia, pemukulan wasit karete– telah membuat sebagian elite politik Indonesia menyimpulkan Malaysia arogan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Abdullah Badawi terus-menerus berupaya menghilangkan hambatan itu. Hubungan pribadi kedua pemimpin berjalan sangat baik, bahkan terbaik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Namun, elite politik dan media massa mengambil jalannya sendiri.
Harus ada yang menjembatani hubungan kedua negara ini. Media massa dapat mengambil peran besar, selain berbagai perbaikan harus dilakukan kedua pemerintahan.
Sebuah pohon dalam rumpun yang sama, semestinya tidak rusak oleh perbedaan kerindangan dari cabang-cabangnya. Kerindangan cabang-cabang dapat berbeda, namun ia tetaplah pohon yang sama, dengan akar yang sama, dan tumbuh di tanah yang sama.
Pak Rosihan yang telah membina persahabatan dengan wartawan Malaysia sejak 60 tahun lalu, menutup makalahnya dengan kalimat yang manis, “Wartawan dunia Melayu kini memulai perjalanan kemanusiaan berjamaah, human pilgrimage, menuju perasaan bersatu, sekepentingan, setia kawan di bawah ayoman rumpun Melayu. Mari kita berjalan bersama-sama, bergandengan tangan.”
Kedua negara memerlukan semakin banyak orang-orang yang bijak, orang-orang yang bekerja untuk kepentingan bersama. Akal sehat, kata Pak Rosihan, harus terus berjaya dan kearifan harus berlangsung terus.
Pak Rosihan telah mengatakan dan melakukannya sejak 60 tahun lalu. Akal sehat, memang harus terus berjaya dan kearifan harus berlangsung terus-menerus.
sumber: REPUBLIKA
DIarsipkan di bawah: Resonansi
