Posted on Juli 3, 2008 by naer24

Mencari Cinta Yang Hilang
Penulis : Abdulkarim Khiratullah
Tebal : vii+286
Ukuran : 20.5 x 13.5 cm
Harga : Rp. 46.000,00
Kemiskinan tidak akan menjadi halangan bagi siapapun untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Begitu pula yang terjadi pada Fauzi, seorang anak yatim yang berasal dari sebuah kota kecil di Sumatera Barat. Walau pun dengan keterbatasan ekonomi, ia akhirnya dapat mewujudkan keinginannya belajar ke tanah Arab dan harus rela meninggalkan satu-satunya orang yang paling ia cintai.
Suka dan duka ia alami selama tinggal di negeri Arab saat menuntut ilmu agama. Tapi, tanpa ia duga, datang tawaran dari Pak Zaidan untuk menjodohkan anaknya, Rahima dengan dirinya. Namun pertunangan itu menjadi awal dari konflik baru yang mengakibatkan rentetan kejadian, lantaran perjodohan mereka ditentang oleh niniak-mamak. Bagaimana Fauzi menghadapi masalah ini? Sanggupkah ia menghadapainya seorang diri? Apakah cinta mereka bisa bersatu?
Peristiwa dalam novel ini akan membuka fikiran kita, bahwa cinta adalah sumber kekuatan utama yang menggerakkan setiap aktifitas manusia. Dan Cinta yang teragung adalah cinta pada Sang Pengarunia Cinta, Allah SWT
sumber: REPUBLIKA
DIarsipkan di bawah: Resensi, Resonansi | Comments Off
Posted on Juli 3, 2008 by naer24

oleh: Ahmad Syafii Maarif
Adalah sahabat saya, pengusaha Maher Algadrie (putra Hamid Algadrie, seorang pejuang nasional dari Partai Sosialis Sutan Sjahrir), yang pernah bertutur kepada saya bahwa dari keturunan Arab Yaman ada yang punya gen radikal dan revolusioner. Saya tidak tahu apakah seorang Habib Rizieq Shihab, Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar, Habib Alhabsyi, dan sederetan yang lain, punya nasab revolusioner dari Yaman itu. Watak radikal dan revolusioner dengan mudah sekali dapat berubah menjadi beringas jika lepas kendali dari akal sehat dan kejernihan sikap. “baca selengkapnya”
DIarsipkan di bawah: Resonansi | Comments Off
Posted on Juli 3, 2008 by naer24

Oleh : Asro Kamal Rokan
Tangis pecah di lantai empat Ritz Carlton, Jakarta. Sekitar 800 orang, dari berbagai latar belakang dan agama, tak mampu membendung air matanya, menyesali sisi gelap dirinya. Ego dan keangkuhan melayang, seperti sebutir debu dalam gulungan badai gurun yang dahsyat. Mereka merasa lebih kecil dari debu ketika mengetahui kebesaran Allah yang menciptakan langit dan bumi sekalian isinya, Mahakuasa atas semua ciptaan-Nya, Maha Mengetahui yang tersembunyi di setiap hati manusia. “baca selengkapnya”
DIarsipkan di bawah: Resonansi | Leave a Comment »
Posted on Juli 3, 2008 by naer24

Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Ungkapan dalam judul ini tidak berasal dari saya, tetapi dari Bung Saini KM, sastrawan dan dramawan, asal Sumedang, lahir 18 Juni 1938. Sejak beberapa tahun terakhir kami sama-sama menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ). Bung Saini yang santun dan tidak banyak bicara, tetapi sudah terlatih berpikir dalam, karena itu ia gelisah mengamati kultur bangsa yang sedang jatuh.
Dalam sebuah wawancara panjang, Saini sampai kepada kesimpulan bahwa bangsa ini secara kultural sedang kalah. Berbagai indikator telah dibentangkannya dalam wawancara itu. Pada saat berbicara tentang tindak kekerasan yang sedang marak di mana-mana dengan berbagai alasan, Saini meneropong akar pokoknya karena bangsa ini telah kehilangan rujukan budaya. Kulturalisasi (pembudayaan) telah ditelan komersialisasi yang ganas dan dangkal. “baca selengkapnya”
DIarsipkan di bawah: Resonansi | Leave a Comment »
Posted on Juli 3, 2008 by naer24
Sepuluh tahun terakhir, di Indonesia, penuh perubahan berdampak panjang yang tak jarang penuh gejolak. Ada euforia demokrasi yang terus berkelanjutan; ada demonstrasi dan unjuk rasa yang seolah tidak pernah habis. Juga ada ingar-bingar Pilkada. Juga terorisme dan gejala radikalisme dan intoleransi. Hasilnya, negara ini sering dipandang baik oleh warga negara sendiri maupun orang luar, sebagai negara yang tidak normal.
Tetapi, pandangan lebih positif tentang Indonesia mulai muncul dan berkembang. Bukan dari ahli atau pengamat dalam negeri, tapi dari dua Indonesianis terkemuka, Andrew MacIntyre, guru besar ilmu politik di Australian National University (ANU) dan Douglas E Ramage, Representatif The Asia Foundation di Indonesia. Karya mereka, Seeing Indonesia as Normal Country: Implications for Australia (Barton, ACT, Australia: ASPI, 2008) memandang Indonesia sebagai ‘negara normal’ atas dasar pengakuan tentang kemajuan yang telah dicapai sejak jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya 10 tahun lalu. “baca selengkapnya”
DIarsipkan di bawah: Resonansi | Comments Off
Posted on Juni 29, 2008 by naer24

Kau rinduku, jiwaku indah memanggil dirimu
Mataku terbangun untuk menanti
Menantimu…
Jangan pernah kau ragukan cinta yang sesungguhnya
Itu bisa menghancurkan semua
Bukan begitu…
Reff:
Aku sungguh masih sayang padamu
Jangan sampai kau meninggalkan aku
Begitu sangat berharga dirimu
Bagiku…
Dan kupastikan saja dihatimu
Kan kukorbankan semuanya untukmu
Sungguh kuberharap kaupun begitu
Padaku…
Coba kau rasakan cinta yang begitu kan
Mengesankan…
Yakin pasti dapatkan kemesraan yang penuh
Cinta…
DIarsipkan di bawah: Lagu Indonesia | Comments Off
Posted on Juni 29, 2008 by naer24
Ketombe dapat menimbulkan masalah ketika menyangkut penampilan. Seseorang yang berketombe tak jarang menjadi kurang pe-de. Betapa terganggunya seseorang yang mendapati serpihan kulit kepala berhamburan di bajunya. Apalagi jika seseorang tersebut dituntut tampil di hadapan banyak orang.
Oleh para ahli, ketombe dihubungkan dengan infeksi jamur Pytosporum ovale dan jamur Mallassezia sebagai faktor pencetus terjadinya kelainan pada kulit kepala. Seseorang berketombe mengalami pelepasan sel kulit kepala lebih cepat dibanding orang normal. “baca selengkapnya”
DIarsipkan di bawah: Kesehatan | Comments Off
Posted on Juni 28, 2008 by naer24
Masih muda, korbankan kesehatan cari harta. Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan
Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara. Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing.
Orang kaya mampu beli ranjang enak, tapi gak bisa tidur enak (stress…man) Orang miskin gak mampu beli ranjang enak, tapi bisa tidur enak (capek jadi kuli)
Orang kaya punya duit buat foya-foya, tapi gak punya waktu. Orang miskin punya waktu buat foya-foya, tapi gak punya duit.
Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan. Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan. Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan udah keburu tua gak ada tenaga.
DIarsipkan di bawah: Filsafat | Comments Off
Posted on Juni 27, 2008 by naer24

apa kata dunia bila ku tak bersamamu
apa kata dunia bila melihatmu menangis
buah semangka di dasar laut
tak disangka hatiku terpaut
ku kan berjanji slalu bersamamu
apa kata dunia bila ku tak punya cinta
apa kata dunia bila ku tak bersamamu
buah nangka kulitnya berduri
tak disangka hatiku tercuri
bukan merajuk ku sunggu cinta
reff:
cinta biarkan ada dan kita takkan berpisah
hanya maut yang bisa memisahkan cinta
aku akan berjanji demi bumi yang kupijak
kan kudampingi dirimu selamanya
DIarsipkan di bawah: Lagu Indonesia | Comments Off
Posted on Juni 23, 2008 by naer24
dengarkanlah wanita pujaanku
malam ini akan ku sampaikan
hasrat suci kepadamu dewiku
dengarkanlah kesungguhan ini
* aku ingin mempersuntingmu
‘tuk yang pertama dan terakhir
reff:
jangan kau tolak dan buatku hancur
ku takkan mengulang ’tuk meminta
satu keyakinan hatiku ini
akulah yang terbaik untukmu
dengarkanlah wanita impianku
malam ini akan ku sampaikan
janji suci satu untuk selamanya
dengarkanlah kesungguhan ini
DIarsipkan di bawah: Lagu Indonesia | Comments Off